Identity Causes Unidentified

Click the picture to get its source

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh ribuan pengungsi dari Bangladesh dan Myanmar ke Aceh melalui jalan laut. Pengungsi yang tidak hanya orang dewasa laki-laki tetapi perempuan dan anak-anak ini tersebar di dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia yang masing-masing jumlahnya diatas angka 1.000; di Malaysia 1.107 dan di Indonesia 1.800. Jumlah ini bahkan diperkirakan belum terhitung semuanya karena diperkirakan masih ada yang terombang-ambing di lautan lepas dan bahkan beberapa gelombang pengungsi masih akan berdatangan ke kedua negara tujuan ini.

Rata-rata dari pengungsi ini adalah warga muslim Rohingya yang telah turun temurun tinggal di daerah Rakhine atau daerah perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar. Warga muslim Rohingya terpaksa melakukan ‘desparate journey’ ini karena mereka tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. Secara fisik, agama dan budaya warga Rohingya memang dapat dibedakan dari mayoritas warga di Myanmar meskipun warga ini telah mendiami daerah Rakhine, Myanmar secara turun temurun dari generasi ke genarasi. Sehingga ini membuat garis perbedaan identitas antar keduanya.

Karena identitas berupa ras, budaya dan bahasa yang dibawanya berbeda dengan warga Myanmar kebanyakan, warga Rohingya menjadi kehilangan identitasnya sebagai warga negara Myanmar.

Menurut Amin Maalouf, identitas seseorang itu adalah kumpulan dari banyak hal yang dilaluinya selama masa hidupnya. Jadi, identitas itu tidak konstan tetapi dinamis dengan hal-hal baru yang disentuhnya. Seorang keturunan Australia yang lahir di Indonesia dan besar di Indonesia akan memiliki identitas Indonesia dan Australia sekaligus. Namun tentunya porsi identitas dan elemen-elemen identitasnya akan berbeda antara identitas Indonesia dan identitas Australianya. Bisa jadi, dia menjadi sangat Indonesia dalam hal makanan karena terbiasa dengan makanan Indonesia; tetapi dalam hal berbicara bahasa Inggris dan perilaku bisa jadi sangat Australia karena dibesarkan di keluarga Australia.

Kecenderungan menunjukkan identitas adalah hal sangat normal bagi manusia. Satu waktu seseorang ingin menjadi bagian dari sekelompok orang dengan identitas tertentu, akan tetapi satu waktu yang lain seseorang ingin kelihatan berbeda dari sekelompok orang dengan identitas tertentu. Sebagai contoh, ketika seorang warga Indonesia yang merantau pergi ke luar negeri dan tiba-tiba menemukan sebuah restoran Indonesia, maka serta merta orang tersebut akan segera menunjukkan identitasnya sebagai orang Indonesia. Itulah bagaimana identitas merupakan sesuatu yang alami yang dimiliki oleh manusia dan alami pula untuk diekspresikannya.

Namun demikian, identitas juga dapat disikapi dengan bijak dengan cara mencari identitas lain yang dapat mempersatukan dua pihak yang bertikai atau berpotensi bertikai. Dalam kasus pengungsi Rohingya, warga Aceh yang menyelamatkan pengungsi Rohingya dari ombang-ambing laut lepas adalah menggunakan dua identitas, yaitu atas nama sesama Muslim dan juga atas nama kemanusiaan. Mereka bisa jadi berbeda kewarganegaraan, ras, bahasa dan budaya, akan tetapi mereka sama dalam agama dan juga sama-sama manusia.

Keputusan presiden RI menerima pengungsi ini sementara dengan jangka waktu tertentu merupakan keputusan yang tepat. Selama ini, kita mengutuk tindakan pemerintah Myanmar yang tidak mengakui mereka sebagai warga negara Myanmar dan itu seakan-akan mengiyakan tindak kekerasan beberapa masyarakat Myanmar kepada masyarakat Rohingya ini; dan kini jika kita juga menolak kehadiran mereka di negeri ini, maka tidak ada bedanya antara kita dan Myanmar.

Setelah itu pemerintah RI dan juga masyarakat luas Indonesia dapat melakukan negosiasi kepada pemerintah Myanmar dengan mendorong pemerintahnya menggunakan identitas kemanusiaan dan identitas ASEAN agar Myanmar dapat menerima kembali masyarakat Rohingya di negaranya dengan status kewarganegaraan yang jelas.

Karena identitas, warga muslim Rohingya ini menjadi tidak memiliki identitas di Myanmar. Karena identitas, sebagai warga negara Indonesia mari kita tolong dan terima warga Muslim Rohingya di negeri ini. Karena identitas, mari kita juga dorong pemerintah Myanmar untuk menerima kembali warga Muslim Rohingya ini. Karena identitas, mari kita dorong perdamaian dunia. Dengan identitas kemanusiaan, kita menjadi satu kesatuan komunitas internasional yang seharusnya hidup damai dan menikmati identitas kehidupan.

Idham Badruzaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *